TVRINews, Palangka Raya
Upaya melestarikan seni budaya Kalimantan Tengah dilakukan melalui kegiatan Revitalisasi Tari Kinyah Mandau. Program ini menghadirkan lokakarya, kompetisi, hingga pengarsipan digital pakem tradisi untuk menggali kembali nilai filosofi, teknik, dan karakter tarian tersebut.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Lokakarya Pakem Tari Kinyah pada Kamis, 5 November 2026, di Gedung Galeri Taman Budaya Kalimantan Tengah. Selanjutnya, Kompetisi Tari Kinyah Mandau dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 14 November 2026, pukul 19.00 WIB di Palangka Raya.
Kegiatan ini bertujuan mengangkat kembali karakter Tari Kinyah Mandau sebagai representasi sosok pendekar, prajurit, dan pejuang Kalimantan Tengah. Tarian tersebut tidak sekadar menampilkan keindahan gerak, tetapi juga mengandung unsur bela diri dan meditasi.
Penggalian kembali pakem dan filosofi tari dinilai penting karena keberadaan tarian tradisional tersebut semakin jarang dikenal masyarakat. Salah satu tantangannya adalah anggapan bahwa seni tari identik dengan gerakan lemah lembut, sehingga sebagian masyarakat masih ragu mengarahkan penari laki-laki untuk menekuni seni tari.
Padahal, Tari Tingang Mandau memiliki karakter gerak yang menggambarkan kegagahan dan ketangguhan seorang pejuang. Tarian ini dapat dibawakan oleh laki-laki maupun perempuan selama mengikuti ketentuan tradisi.
Kompetisi yang digelar dalam rangkaian revitalisasi ini juga tidak dimaksudkan sebagai ajang saling menjatuhkan antarpeserta. Sebaliknya, kegiatan tersebut menjadi ruang apresiasi bagi para pelaku seni yang ikut menjaga keberlangsungan budaya daerah.
Melalui Sanggar Marajaki, seluruh peserta akan mendapatkan medali sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi mereka. Semangat tersebut dirangkum dalam slogan “One Medal, One Hero” atau satu medali, satu pahlawan.
Masyarakat, khususnya generasi muda, juga diajak untuk tidak ragu menjadi pegiat, pencinta, maupun pelaku seni budaya. Keterlibatan berbagai pihak dinilai penting agar nilai-nilai tradisi tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui lokakarya, kompetisi, dan pengarsipan digital pakem tradisi, revitalisasi ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman masyarakat terhadap Tari Kinyah Mandau sekaligus menjaga warisan budaya Kalimantan Tengah agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.










