Penulis: Muhammad Razaq
TVRINews, Palangka Raya
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) seiring meningkatnya aktivitas kebakaran selama musim kemarau. Sebanyak 10.700 personel gabungan disiagakan untuk mendukung upaya pencegahan dan penanganan Karhutla di wilayah Kalteng.
Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran mengatakan, penanganan Karhutla membutuhkan kerja bersama seluruh elemen masyarakat. Pencegahan dan kesiapsiagaan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar potensi kebakaran dapat segera dikendalikan dan dampaknya terhadap masyarakat dapat diminimalkan.
“Karhutla merupakan tanggung jawab kita bersama. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terus memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan seluruh pihak agar setiap potensi kebakaran dapat segera ditangani. Yang paling utama adalah melindungi masyarakat dan menjaga lingkungan Kalteng tetap aman dari dampak kabut asap,” ujar Agustiar Sabran.
Gubernur juga menekankan pentingnya keterlibatan seluruh pihak dalam upaya pencegahan, termasuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemunculan titik api serta mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Berdasarkan laporan lapangan kabupaten/kota kepada Pusdalops PB Provinsi Kalimantan Tengah, hingga periode tersebut tercatat 47 kejadian Karhutla dengan perkiraan luas area terbakar mencapai 100,44 hektare.
Sebaran hotspot harian menunjukkan Kabupaten Katingan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi, yakni 338 hotspot. Berikutnya Kabupaten Pulang Pisau sebanyak 299 hotspot, Seruyan 297 hotspot, Kotawaringin Timur 271 hotspot, dan Kota Palangka Raya 155 hotspot.
Dari sisi luas area terbakar harian, Kabupaten Kapuas mencatat luas terbesar, yakni 46 hektare. Kemudian Seruyan 12,5 hektare, Gunung Mas 10,52 hektare, Kotawaringin Timur 10 hektare, dan Kotawaringin Barat 9,25 hektare.
Kabupaten Kapuas juga mencatat jumlah kejadian Karhutla harian terbanyak, yakni sembilan kejadian. Disusul Seruyan dan Kota Palangka Raya yang masing-masing mencatat tujuh kejadian.
Kumulatif Capai 104.140 Hotspot
Secara kumulatif sejak 1 Januari hingga 7 September 2026 pukul 18.00 WIB, tercatat sebanyak 104.140 hotspot di wilayah Kalimantan Tengah.
Dalam periode tersebut, terdapat 2.698 kejadian Karhutla dengan luas area terbakar berdasarkan laporan lapangan mencapai 8.139,12 hektare. Sementara berdasarkan perhitungan citra satelit Landsat 8 OLI/TIRS, luas area yang terindikasi terbakar mencapai 7.634 hektare.
Berdasarkan sebaran kumulatif, hotspot terbanyak tercatat di Kabupaten Kotawaringin Timur sebanyak 20.570 titik, disusul Kapuas 18.135 titik, Kota Palangka Raya 15.143 titik, Pulang Pisau 11.542 titik, dan Katingan 9.315 titik.
Dari sisi jumlah kejadian, Kota Palangka Raya mencatat angka tertinggi dengan 569 kejadian. Berikutnya Kotawaringin Timur 519 kejadian, Seruyan 306 kejadian, Kapuas 214 kejadian, dan Kotawaringin Barat 207 kejadian.
Sementara itu, luas Karhutla kumulatif terbesar tercatat di Kabupaten Kotawaringin Timur sebesar 2.423,24 hektare. Kemudian Kotawaringin Barat 1.082,74 hektare, Seruyan 1.028,64 hektare, Kapuas 646,89 hektare, serta Kota Palangka Raya 534,53 hektare.
Karhutla Meningkat pada Agustus
Memasuki musim kemarau, aktivitas Karhutla mengalami peningkatan signifikan pada Agustus 2026. Pada periode tersebut tercatat 71.350 hotspot dan 1.444 kejadian Karhutla, dengan luas area terbakar sekitar 4.898,06 hektare.
Sementara hingga 7 September 2026, tercatat 27.457 hotspot, 413 kejadian Karhutla, dan luas area terbakar sekitar 1.551,29 hektare.
Selain memperkuat operasi pencegahan dan pemadaman, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah juga melakukan penegakan hukum terhadap pelanggaran terkait Karhutla. Hingga 7 September 2026, tercatat 32 penyelenggaraan penegakan hukum telah dilakukan.
Dampak Karhutla dan kabut asap terhadap kesehatan masyarakat juga menjadi perhatian pemerintah. Berdasarkan data yang dihimpun, tercatat 79.081 orang mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara kumulatif, dengan 6.734 kasus tercatat pada Minggu IV Agustus 2026.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah menyiapkan 150 lokasi Rumah Oksigen serta mendukung penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di sembilan kabupaten/kota sesuai kondisi wilayah masing-masing.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah kembali mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya titik api, terutama di kawasan lahan gambut dan wilayah yang rawan terbakar.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan kejadian kebakaran agar dapat ditangani secara cepat dan tepat.
Kolaborasi pemerintah, aparat, dunia usaha, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menekan risiko Karhutla sekaligus melindungi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Melalui sinergi seluruh pihak, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terus mendorong terwujudnya semangat “Bersama Wujudkan Kalteng Bebas Kabut Asap Tahun 2026.”










